Hari Nuzulul Quran Nasional [ 17 Ramadhan ] Bikinan Bung Karno > Jokowi Janji 1 Muharram Hari Pesantren Ide Setan


Ternyata tak ada bedanya dengan Bung Karno, Benar benar Marhenis Partai berlambang Banteng Gila, seorang Jokowi yang dinobatkan sebagai capres olehnya, ternyata seorang penghayal, dan menjadikan Islam sebagai proyek percobaan dan janji janji palsunya. Ini bukan “kampanye Hitam”, karena kampanye sudah selesai. Tetapi persoalan Jokowi sangat tendensius menyinggung perasaan umat Islam.

Umat Islam mengenal 1 Muharram sebagai bulan pembukaan,dan ada lagi yang menyematkan Muharram sebagai tahun Hijrah, meskipun tidak benar adanya. Sikap Jokowi menjual satu Muharram sebagai bahan kampanyenya, bagian dari penghinaan terhadap Islam. Jokowi telah beranggapan bahwa kelompok tradisional Islam itu sangat bodoh yang bisa dinina bobokan dengan “ulang tahun”. Karena Jokowi membaca, umat Islam itu gampang percaya dengan berbebagai perayaan yang diadakan oleh umat Islam, sehingga dibesar besarkankanlah Muharram itu dengan janji jokowi yang menyakitkan.

Padahal disisi lain Jokowi telah sengaja merusak struktur keharmonisan umat Islam LENTENG AGUNG, dosa yang tak pernah disesali Jokowi terhadap Umat Islam. Bagaimana dia sebagai orang ngaku Muslim, melukai perasaan umat Islam, sekaligus menghina kitabnya sendiri Al-Quran, dengan menempatkan Lurah Susan sebagai Lurah di Lenteng Agung yang “mayoritas Islam”. Sikap Jokowi Ini membuktikan dirinya yang tidak pernah tahu larangan Islam. konyol imannya, karena dengan mudah menjual agamanya demi orang lain dan agama lain yang meng-elu elukan Jokowi sebagai Yesus. Sungguh diluar batas iman, melampaui batas wajar memprak porandakan Islam dg mengizinkan non Muslim memimpin Islam, astaghfirullah

Bandingkan dengan Soekarno yang merintis “Nuzulul Quran” jatuh tanggal 17 ramadhan, bukan sebuah gaya Soekarni menina bobokan Islam, agar mendukung gagasan gagasannya. Tak ada keterangan dari kitab manapun bahwa tanggal 17 ramadhan itu adalah waktu diturunkannya Al Quran . Justru menurut keterangan yang rajih AlQuran diturunkan sekaligu kelangit dunia pada tanggal 24 ramadhan.

 

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا عِمْرَانُ أَبُو الْعَوَّامِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، الْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ “

Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’iid maulaa Bani Haasyim : Telah menceritakan kepada kami ‘Imraan Abul-‘Awwaam, dari Qataadah, dari Abul-Maliih, dari Waatsilah bin Al-Asqa’ : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Shuhuf (lembaran-lembaran) Ibraahiim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadlan. Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadlaan, Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadlaan, dan Al-Furqaan (Al-Qur’an) diturunkan pada tanggal 24 Ramadlaan [Diriwayatkan oleh Ahmad, 4/107; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 4/104 no. 1575].

naman tanggal 24 ramadhan itu bukan turunnya Al Quran pada Nabi Muhammad, tetapi turunnya Al-Quran ke langit dunia :

حَدَّثَنَـا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ، قال: ثنا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، قال: ثنا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ” إِنَّـا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ، قَالَ: نزل الْقُرْآنُ جُمْلَةً إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ…..

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Al-Hasan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ishaaq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Ayyuub, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas tentang firman-Nya : ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi’ (QS. Ad-Dukhaan : 3), ia berkata : “Al-Qur’an turun sekaligus ke langit dunia pada Lailatul-Qadr.” [Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh dalam Thabaqaatul-Muhadditsiin bi Ashbahaan 4/226; shahih].

Kesimpulan dari tulisan tersebut, baik Soekarno Adalah Jokowi meniru niru kelompok zindik kerajaan fatimiyun Mesir , kelompok Syiah yang memang kulturnya “Meng – ada ada”

Mayoritas Islam Yang Memilih Pemimpin Kafir Perlu Dipertanyakan Islamnya


Pedoman umat Islam, Quran dan Sunah. Selama hidup di dunia, tak ada pedoman yang paling utama dan sah yang harus menjadi panduan umat Islam, melainkan hanya pada kedua kitab tersebut. Dalam hal kepemimpinan misalnya, ada banyak ayat yang mengharuskan umat Islam mengangkat pemimpin dari kalangannya sendiri, bukan dari agama lain. Karena tak mungkin agama lain bisa membangun umat Islam. Wajiblah umat Islam hanya berasas Quran dan sunah dalam segala hal, sebagai bentuk ketaatan pada Allah dan rasul-Nya

1. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin
QS. 3. Aali ‘Imraan : 28.

لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”

QS. 4. An-Nisaa’ : 144.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”
QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”
2. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

QS. 9. At-Taubah : 23.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الإيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu kdikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

3. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

QS. 3. Aali ‘Imraan : 118.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”
QS. 9. At-Taubah : 16.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلا رَسُولِهِ وَلا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

4. Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

QS. 28. Al-Qashash : 86.

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”

5. Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

QS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ
بَلِ اللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

6. Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

QS. 4. An-Nisaa’ : 141.

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

“…… dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

7. Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 4. An-Nisaa’ : 138-139.

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

8. Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 51.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

9. Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”
10. Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

11. Al-Qur’an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

QS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

12. Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir

QS. 60. Al-Mumtahanah : 5

. رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Tafsir Syiah : “Benarkah AlQuran Tidak Terjaga” ?


Sejarah pengumpulan Quran yang dilakukan kalangan sahabat tidak saja melibatkan naskah naskah yang ditulis pada pelepah kurma atau kulit binatang, tetapi juga mengandalkan kalangan huffadz yang kuat ingatan dan hafalannya, sesuai bacaan bacaan dan tata letak yang didengar dari rasulullah selama hidupnya. Termasuk generasi tabiin yang menghidup dan talaqqi dari sahabat sahabat nabi yang mewariskan keilmuan Quran sebelum wafatnya. Tentu hal itu tak dapat didustakan dari sejarah pencatatan dan pengumpulan Quran. Yang tidak memungkinkan ada perobahan pada kurun pengumpulan Quran waktu itu, karena para huffadz masih banyak yang hidup ketika itu menjadi saksi peristiwa pengumpulan al-Quran dan penulisannya dalam pemerintahan Usman, meskipun banyak juga dari kalangan mereka terbunuh dalam berbagai jihad menegakkan agama tauhid.

Berbeda dengan tuduhan tuduhan yang menyatakan Quran era Usma bin Affan itu tidak terpelihara dan terjaga dari aib dan cacat perombakan yang dilakukan tim Usman, hanya merupakan tuduhan belaka para penentang dan musuh musuh Islam yang tidak menyukai Usman bin affan, sehingga mengaitkan pengumpulan quran dan kehadiran Usman dalam bingkai kebencian mereka. Syiah adalah salah satu kelompok anti Usman adalah paling berperan membuat kedustaan kedustaan, berupa sikap anti dengan menebar fitnah bahwa AlQura mushhab usmani merupakan himpunan dusta yang di lakukan oleh tim penyusun penulis Quran model Usman. Untuk itu pasukan anti usma ini melakukan provokasi dengan tulisan tulisan yang melecehkan kedudukan Quran dan Usman bin affan sebagai sosok tunggal yang dikemas atas nama kitab Suci, kalam Ilahi atau wahyu allah:

Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyiy berkata :

لم يبق لنا اعتماد على شيء من القران. اذ على هذا يحتمل كل اية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يقب لنا في القران حجة أصلا فتنتفى فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك بهإلى غير ذلك

“Tidaklah ada pada kami untuk berpegang dengan suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini karena semua ayat telah diubah suai (oleh khalifah pada waktu itu) sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah ada dari Al-Qur’an satu ayatpun dapat hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….hingga selain itu” [Tafsir Ash-Shaafiy, 1/33]

Itu percikan api fitnah yang dipancarkan tokoh syiah Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyiy sebagai pelopor gerakan anti Quran mushhaf usmany yang di sinyalir mereka sebagai kitab dusta yang sengaja diadakan oleh khalifah Usman, kekejian mereka ini tentu sangat berbeda dengan Quran itu sendiri yang tidak pernah tendensi menghujat syiah sebagaimna Quran syiah yang tendensius kebencian menghujat yang disinyalir mereka sebagai musuh musuh Ali bin Abi Thalib. Bahkan memberikan makna bahwa al Quran era usmany lepas dari kosnpirasi dan tangan jahiliyah, sebagai bukti, tidak terdapat dalam quran Mushhaf Usmani kata kata yang melecehkan Ali dan keluarganya atau melecehkan sahabat yang lainnya.

Tetapi yang ada, Al-quran membuktikan kalam ilahy yg benar yang tidak terdapat oret oretan tangan jahiliyah dalam penyusunannya. Apa yang ditulis dan disusun oleh Tim pembukuan Quran pada waktu itu merukan kumpulan tulisan tulisan dalam berbagai media tulis yang ada ketika itu, selain kemampuan hafalan mereka yang sangat luar biasa. Perpaduan tulisan dan hafalan itulah yang dipakai mereka didalam membukukan Quran sehingga berbentuk sebagaimana yang kita baca seperti sekarang.

Berbeda dalam fenomena pikiran yang berkembang dikalangan syiah; Al-Quran sekarang tidak lebih dari gubahan tangan kotor para sahabat (tuduhan syiah), mereka berandai andai dengan justifikasi palsu atas Quran, bahwa Quran Mushaf usmany tidak pantas diabadikan sebagai kitab suci, melainkan hanya sebatas konsep munkar yang dipaksakan oleh Usman sebagai penguasa khilafah pengganti Umar. Tetimony Syiah ini didasarkan pada dugan dugaan belaka tanpa alasan dan dzonni Jahiliyah. Padahal Quran versi syiah hingga detik ini tak ada seorangpun yang menyukainya, apalagi menghafalnya, hingga terdapat rasa muak untuk mendekatinya, seperti tidak ada nyawa yang bisa menariknya untuk dibaca. Sedangkan Quran versi sunni bagaikan maghnit yang mengisap banyak orang untuk lengket padanya, tertarik hatinya untuk menghafal dan meyakini kebenaran AlQuran yang sangat luar biasa tersebut.

Firman Allah :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [QS. Al-Hijr : 9]. Jaminan Allah ini berlaku sitimatis dari langit, menjaga dan memelihara kemurnian Quran yang dapat dirasakan setiap muslim yang meghafalnya, tidak ada seorangpun yang membaca Quran pasti ingin dekat dan merasakan nikmat dari lezatnya membaca Quran. Hati hati mereka menjadi tentram, nyaman bersama luapan cinta yang terungkap dengan tetesan air mata tanda haru pada firman firman Allah tanpa keraguan sedikitpun, ratusan bahkan ribuan orang merindukan Quran dengan menghafalnya. Mereka menyibukkan diri membuka lembaran mushhaf dengan mengulang ngulang bacaan tanpa ada perasaan bosan dalam menghafalnya, tentu kalau bukan Firman Allah akan ada kejenuhan tersendiri.

Yang pasti hingga detik ini telah lahir ribuan haafidz Quran, yang secara estafet membuktikan Quran sebagai kitab Allah yang benar benar terpelihara. Mereka bangga menjadi penghafal Quran, seolah Al-Quran adalah jiwa mereka, adalah bagian vital yang tak terpisahkan dari diri mereka.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” [QS. Ash-Shaff : 8].

Di luar sana sekumpulan syiah, kalangan pakar penebar fitnah menebarkan keraguan, menebar virus anti Quran, melantunkan syair syair kebencian yang terangkum indah untuk menghujat Quran. Mereka sibuk meniupkan sihir sihir logika guna meracuni kalangan intelektual muslim yang awam agama dengan cerita ceritan nonsen dan logika bullshit yang menyamakan Quran mushhaf usmany tak ada bedanya dengan kompilasi otak otak nakal kalangan sahabat yang dianggap murtad oleh syiah. Konsep pemikiran syiah ini menjadi laris dikalangan para pemuja Aqal, dan mereka yang berpikir humanis sekuler. Yaitu rekayasa intelektual yang menimbulkan rasa iba pada keluarga Ali yang seharusnya menggantikan kedudukan Rasulullah sebagaimana klaim syiah. Iba hati mereka tersebut diwujudkan dalam bentuk tulisan tulisan sastra yang melukiskan ada kekejaman sahabat sahabat nabi yang dituduh konspirasi mengambil alih kekauasaan Ahlul bait (dalam hal ini Ali dan keluarganya ) sebagaimana pikiran kotor syiah yang merentang dan menebar duri duri kemunafikan dalam bentuk wacana anti sahabat selain Ali dan pendukungnya.

Merekalah yang sebenarnya memadamkan cahaya agama Islam(meskipun ayat itu bersifat umum tidak mengikat syiah saja) tanpa terdapat kompromi dengan sebuah kesepakatan anti Quran, bahwa para sahabat selain nabi itu adalah murtadin, itu dilemparkan syiah ditengah tengah hiruk pikuk intelektual yang impoten agamanya. Kebanggaan tersendiri bagi mereka yang tenggelam dalam keguman syiah yang cerdas dimata mereka dengan mengangkat tema penyelewengan suni. Padahal hanya sekedar lelucon syiah sebagai suatu cara menjaring dan merekrut intelektual yang dipandang bodoh. Target syiah adalah melumpuhkan pikiran kalangan intelektual muslim bahwa kebenaran itu hanya syiah, dan yang lain tidak. Merupakan sebuah pilihan dari sekian banyak pilihan yang harus dilakukan syiah yang pandai mengolah kata. Banyak ketertarikan yang diciptakan guna melemahkan urat syarat mereka dengan totokan intelektual, berupa retorika konfrontatif dengan hujjah atau argumen yang sengaja diciptakan bahwa selain syiah telah melakukan abortus terhadap Islam.

Terutama Al-Quran, sebagai wahyu Allah dituduh penuh dengan kebohongan oleh Tim Usman dalam pembukuan Quran, itu salah satu tujuan syiah adalah melemahkan semangat umat Islam untuk tidak membaca Quran, selain mengendorkan urat urat umat Islam guna melangkahkan kaki memahami alQuran. Tidak heran kalau syiah membuat statement miring terhadap al-Quran, bahwa Quran sudah tidak suci lagi, karena memang yang bisa keluar dari mulut mereka adalah ucapan najis yang menajiskan Quran untuk dibaca umat Islam.

Usaha usaha mereka meliputi tabur benih kebencian ditengah tengah umat Islam dengan mencetak banyak tulisan yang mengulas ayat ayat yang dipandang janggal oleh mereka, disamping tulisan tulisan bermuatan fitnah, sumpah serapah syiah didalam melemahkan semangat baca dan belajar Quran. Usaha usaha gila syiah ini berisi adegan tulisan pencabulan terhadap para sahabat nabi, dengan nilai merah dan memuakkan selera mereka. Diterbitkannya buku buku penghujat Quran, penista hadist dan sahabat.

Bisa dilihat rencana jahat mereka dalam tulisan Muhammad bin Ya’qub Al-Kulainiy – seorang yang dianggap ahli hadits dari kalangan Syi’ah – (w. 328/329 H) :

عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام قال : وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ

Dari Abu Bashiir, dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam ia berkata : “Sesungguhnya pada diri kami tersimpan Mushhaf Faathimah ‘alaihas-salaam. Dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushhaf Faathimah”. Aku berkata : “Apakah itu Mushhaf Faathimah ?”. Abu ‘Abdillah menjawab : “Mushhaf Faathimah itu, di dalamnya tiga kali lebih besar dibandindingkan Al-Qur’an kalian. Demi Allah, tidaklah ada di dalamnya satu huruf pun dari Al-Qur’an kalian”. Aku berkata : “Demi Allah, ini adalah ilmu” [Al-Kaafiy, 1/239]. Inilah pernyataan sentimen Al Kulainiy yang menyatakan Quran kita itu adalah Quran palsu, quran yang tidak ada kebenarannya sedikitpun dimata mereka. Dan berarti juga telah melempar tuduhan palsu, bahwa para sahabat Nabi selain Ali adalah pendusta. Maka apakah pernyataan Al Kulainiy ini merupakan pertanda kekafiran syiah, tentu saja “ya” memang benar Al-Kulainiy adalah salah satu tokoh pemurtadan ala Syiah yang sekali mempelopori gerakan anti Quran yang kita baca, karena dia adalah seorang ulama Syiah paling getol memerangi Syiah, yang kini dibanggakan sebagian intelektual muslim abangan.

Mitos syiah ini telah menjadi kultus para penganutnya dalam upaya memerangi Al-Quran dan memporak porandakan seluruh orang orangnya yang turut membukan dan menulis wahyu Allah tersebut, adalah mitos kultus yang sebanarnya selaras dengan bentuk pemurtadan yang paling sering dilakukan non muslim yang giat memurtadkan umat Islam. Salah satu drama seru syiah adalah mengarang cerita “ Quran Mushhaf Usmani adalah palsu”

Tipu Daya Pentolan Syiah, Taqiyah Berkepanjangan Sebuah Tipuan Talak Syiah Terhadap[ Dr. Mustafa as-Sibai, Cermin Buram Tokoh Tokoh Islam Yang Percaya Syiah


Dr Mustafa as- Sibai memaparkandalam bukunya  As- Sunnan wa makanatuha fi tashril islami  ( halaman 42 ) Menceritakan :


Pada tahun 1953 , saya mengunjungi Abdulhusain Sharaf
uddiin ( al – Mousawi ), di Tirus . Duduk bersamanya beberapa ulama Shiah . Kami mulai berbicara tentang kondisi yang terjadi di negeri-negeri Muslim , dan kami semua sepakat bahwa Syiah dan orang-orang Sunnah harus saling bahu membahu  satu sama lain dengan satu tujuan  meringankan  penderitaan yang menimpa  kaum  Muslimin . Selama dalam pertemuan itu Abdulhusain antusias menampakkan  beberapa  persetujuan dalam rangka langkah  kami kedepan. Pada akhirnya , terjadi kesepakatan bersama : bahwa perlu sekali ada konferensi antara ulama sunnah dan ulama Syiah dengan tekat bersama yang secaya praktis mampu   mewujudkan kerjasama antara kedua kelompok Namun, tak lama kemudian  , saya terkejut ketika mengetahui   Abdulhusain baru saja sebuah buku , yang isinya penuh  dengan makian dan laknat terhadap Abu Hurairah .

        Aku benar-benar terperanjat  dengan sikap  yang berbeda ,  antara keingginan  Abdulhusain Menyatu dengan sunni  dan antara tindakannya  (menulis sebuah buku hujatan terhadap sahabat nabi, tindakan yang tidak dilandasi  keinginan yang tulus ikhlas dalam  membangun kerjasama antara kedua pihak dan keinginan menghapus kenangan pahit . Saya juga menyaksikan sikap yang sama dari ulama ulama Syiah lainnya . Meskipun mereka menyatakan menginginkan keharmonisan antara kedua pihak, tetapi ulama ulama Syiah terus menerus menokohkan para  sahabat sebagai tokoh tokoh  jahat, karena tujuan awal mereka adalah mempersempit kesenjangan antara orang- orang dari sunnah dan Syi’ah , tetapi mereka , tidak lebih dari sebuah langkah membawa masyarakat lebih dekat kepada sunnah dibandingkan  percaya pada  Syiah  . [dr . As- Sibai]

Bayan; Tampak sekali jurus andalan Syiah adalah Taqiyah, lain ucapan lain pula tindakan. Pandai sekali mereka bersilat lidah. Ujungnya, ketika kesepkatan dicapai, sikap khianat syiah kian terang terpampang dalam bentuk tulisan yang menyudutkan para sahabat nabi. Dalam hal ini Abu Hurairah yang memang dimata syiah dipandang rendah, maklum tak ada hubungan dari nabi, sehingga syiah dengan akal liciknya menjadikan Abu Hurairah sebagai jembatan untuk menghujat sahabat saqhabat lainnya.

Syiah tetap syiah, tak akan pernah damai selamanya dengan sunni, kalaupun ada usaha menyatukan syiah dan suni, hal demikian justru akan mendatangkan malapetaka terhadap Islam, Assibai adalah tipuan syiah. Kata kata damai yang keluar dari mulut Syiah bak bisa ular yang sangat berbahaya, bahkan bisa mematikan. Bagaimana Dokter as-Syibai tergoda untuk percaya saya, namun pada akhirny harus menelan ludah, karena syiah menjadikan kata “Kerja sama” sebagai media menghujat, memaki sejumlah sahabat nabi.

Bila belakangan ini banyak sekali tokoh tokoh agama di Indonesia tergoda oleh bujuk rayu dan kemasan damai para pentolan Syiah, tentu itu sebuah kemelut intelektual muslim yang tidak berpangkal tujuannya pada cita cita Islam yang murni. Tidak perlu heran, karena memang Syiah menebar pukat harimaunya dikalangan terpelajar dan intelektual yang lemah iman. Tanpa mereka sadari, kalau ajakan syiah itu adalah boom waktu yang akan menghancurkan iman iman dan Islam Mereka Kekaguman pada syiah yang tertuang dari kalangan intelektual dan tokoh Muslim hanya sebuah cermin buram yang tidak sepantasnya dipajang di altar kehidupan Muslim.

Pelecehan Sejarah Dan Tarjih Muhammadiyah Oleh Warga NU (Zon Jonggol), Aswaja Sarkub


Ini Sarkub atau
yang lebih dikenal dengan Istilah Sarjana Kuburan sudah benar benar
menebarkan bibit Permusuhan kepada sesama umat Islam. Ini terbukti
dengan tulisan tulisan Zon Jonggol yang diarahkan ke Muhammadiyah
sebagai tujuan dan sasaran pelecehan. Zon Jonggol adalah seorang
Jurnalis andalan Sarkub yang sekedar tahu Muhammadiyah, tetapi kemudian
melakukan propagandan dan provokasi, dengan tulisan tulisan yang sengaja
memancing kemarahan “Muhammadiyah”. Zon Jonggol dipelihara oleh Aswaja
dan Sarkub dengan tulisan tulisannya yang dengan sengaja menumpahkan
kekesalannya terhadap umat lain selain NU. Pertama menulis artikel
tentang “Sejarah Muhammadiyah Yang Terlupakan” . Kandungan opini Zon
Jonggol ini seolah benar benar menguasai sejarah Muhammadiyah, padahal
hanya sekedar tahu saja, bahkan menuduh orang orang sesudah KH. Ahmad
Dahlan melakukan kudeta terhadap persyarikatan Muhammadiyah. Yang dapat
di ungkap dalam hal ini.

  1. Zon Jonggol dengan terang terangan menuduh para pelanjut Muhammadiyah telah melakukan kudeta
    terhadap pemikiran KH. Ahmad Dahlan. Padahal perobahan Dalam
    Muhammadiyah Memang suatu keharusan yang harus terjadi, oleh sebab
    Muhammadiyah adalah persyarikatan, bukan per-orangan. Tentu KH. Ahmad
    Dahlan atau Darwis sangat maklum hingga hari kiamat dengan perobahan
    perobahan ormas Muhammadiyah. Hal itu juga karena menjadi harapan KH.
    Ahmad Dahlan , muhammadiyah sebagai ormas Tajdid.

    Muhammadiyah
    Muhammadiyah (Photo credit: Wikipedia)
  2. Zon Jonggol sengaja melupakan sejarah, bagaimana bentuk felterisasi Aswaja yang sebelum ada NU berusaha dengan SI, untuk menghancurkan Muhammadiyah, berkali kali warga Aswaja dengan perintah para kyai melakukan percobaan
    pembunuhan terhadap KH. Ahmad Dahlan. Ini meng-indikasikan memang ada
    tujuan terselubung dari penulis Zon Jonggol, agar sebagai warga
    Muhammadiyah untuk saling menyalahkan, seolah warga Muhammadiyah adalah
    NU yang gampang di fitnah dengan fitnah kacangan .
  3. Zon Jonggol  (Jengkol) tidak tahu kalau Muhammadiyah wadah gerakan yang memang sejak awal menggariskan jalan Muhammadiyah diatas Al-Quran dan Sunah, itu dilontarkan KH. Ahmad Dahlan sejak berdirinya, agar umat Islam kembali kepada Al-Quran dan Sunah. Jadi kalau terjadi perobahan sejarah selama itu memenuhi tajdid Muhammadiyah sudah memang seharusnya berobah, bukan karena kudeta atau hal hal lain yang tidak terlintas dalam pemikiran Muhammadiyah.
  4. Zon Jonggol menempatkan KH. Ahmad Dahlan sebagaiorang yang dirampok oleh generasi pelanjutnya, padahal secara nyata KH, Ahmad Dahlan justru menyuruh generasi mendatang untuk lebih kuat mengikuti arahannya, menegakkan Quran dan sunah. Dalam pernyataan beliau
    dijaman hidupnya terarah kepada umatnya untuk selalu belajar, agara bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Itulah sebabnya Muhammadiyah tidak terpasung sebagaimana di NU , karena memang NU ormas yang memasung umatnya dengan sekedar taqlid belaka, Tentu sangatlah jauh dengan Muhammadiyah yang menempatkan umatnya agar menuntut ilmu dan belajar hingga benar benar terwujud ajaran Islam yang murni. Sedang di NU kebalikannya, memaksa umat berpikir kampungan dg budaya budaya agama
    lamanya, sbelum Islam.
  5. Zon Jonggol menyamakan Muhammadiyah dan
    NU yang monarkhi kekyaian, sehingga dalam pandangan Zon, Muhammadiyah
    membangkang kyainya, jelas pikiran sesat Zon Jonggol mau merusak
    Muhammadiyah dengan gaya NU yang kepriyaian. Muhammadiyah bukan ormas
    statis, tetapi dinamis yang disarka pada pembaharuan. Justru dengan
    mempertahakan hadist hadist sebagai hujjah Muhammadiyah itu merupakan
    penghargaan tertinggi kepada ulama ulama Mazhab manapun, sekalipun
    Muhammdiyah tidak bermazhab. Pada intinya Muhammadiyah bukan ormas
    tempat berlindung mereka yang picik dan taqlid pemahamannya, tetapi
    Muhammadiyah ormas yang memberikan kreatis kepada seluruh aggotanya
    untuk memberikan masukan kepada Muhammadiyah. Jadi bukan tempatnya
    kyainya Zon Jonggol yang sekedar memasung umat menurut paham paham yang
    tidak jelas.
  6. Gerakan Muhammadiyah adalah gerakan islam, yang
    selalu bergerak sesuai dengan cita cita Quran dan Sunah, bukan kompilasi
    fiqih buatan Zon Jonggol dan kawan kawan yang merekayasa ahlussunah
    dengan atas nama Ulama, padahal merusak kedudukan ulama ulam yang
    dijadikan sandaran. Sedangkan Muhammadiyah jika mengatakan tidak
    bermazhab, karena menggunakan sumbernya yang juga dipakai para imam imam
    Mazhab, terlebih imam imam Mazhab tidak mengikat dan tidak pernah
    menuntut pengikutnya untuk mengikutinya. Tidak pernah ada keterangan
    dari Quran dan sunah kalau tidak mengikuti mazhab adalah sesat. tetapi
    yang keterangan kalau melawan Quran dan Sunah dengan pendapat pendapat
    itulah yang sesat. Bila Muhammadiyah dikatakan tidak bermazhab, itu juga
    sejalan dengan keinginan dan cita cita imam imam mazhab yang menolak
    para pengikutnya yang tidak mengenal sumbernya para imam berpendapat. (https://www.facebook.com/notes/zulkarnain-elmadury/haramnya-bermazhab-kepada-imam-empat-menurut-empat-imam/473677312666961)Dalam
    Masalah Tarjih yang menyebutkan bahwa sistim Tarjih itu membangkan
    ulama ulama masa lalu dan keluar dari kebiasaan KH. Ahmad Dahlan, Karena
    tarjih bukan kompilasi fiqi bahtsul masail, yang lebih pada pendapat
    dan ke pendapat. Himpunan putusan Tarjih dan Fatwa fatwa Tarjih
    berangkat dari kemampuan dan kemahiran kalangan tokoh tokoh
    Muhammadiyah. Bahkan mengundang orang luar untuk ikut membicarakan
    Tarjih dalam pengambilan keputusan keputusannya, bahkan mengundang pakar
    pakar dari luar guna mendapat keputusan yang benar, tanpa berupa fiqi
    yang meluas, cukup sesuai dengan teks teks hadist yang dijadikan hujja
    tarjih, itupun memang berdasarkan hadist hadist pilihan. Bakun
    sebagaimana pikiran zon Jonggol yang tumpul otaknya yang seolah benar
    tulisan, dengan pandangan karat yang tertuang dalam tulisannya :http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/11/12/majelis-tarjih/…Kalau
    dibaca jelas, sebuah oretan tangan orang bodoh yang sok tahu
    muhammadiyah, bahkan mencoba membuat huru hara dalam Muhammadiyah,
    seolah Muhammadiyah gampang terhasut sebagaimana di NU yang membudayakan
    sikap kekerasan terhadap kelompok lain. Dalam hal ini justru membrikan
    gambaran sebagai berikut

    • Zon Jonggol mau menyamakan antara
      Muhammadiyah dan NU sebagai satu kekuatan, padahal sudah dari awal
      dinyatakan oleh KYai Hj  Ahmad dahlan, kalau Muhammadiyah berlandaskan
      Quran dan Sunah. Tidak menganut pendapat mazhab manapun tetapi
      menghargai mazhab. Karena muhammadiyah memandang, sumbernya para imam
      itulah yang wajib  diikuti, bukan mengikuti hasil olah pikiran imam
      selama tidak terdukung oleh keduanya , Quran dan Sunah.
    • Bila
      tidak ada Qunut dalam generasi sesudah Kyai haji Ahmad dahlan, itupun
      karena tidak lepas dari tuntutan Kyai haji ahmad dahlan untuk
      tidkterbelenggu dengan masanya, tetapi harus ada perkembangan yang lebih
      baik di Muhammadiyah. Karena para ulam di Muhammadiyah tidak
      menempatkan paradigma fiqih dan rana fiqih, tetapi pada paradigma Quran
      da Sunah berdasarkan ketelitian hadist hadisrnya. Tidak menjadikan hujja
      seseorang yang mengamalkan ibadah, sekalipun tokoh, selama terbukti
      yang digunakan itu adalah hadist shahi, ini sejalan dengan pikiran imam
      imam Mazhab yang tidak menykai pengikutnya melakukan bid’ah bid’ah
      sesudahnya dengan menyandarkan diri kepadanya.
    • Dalam
      pandangan Zon Jonggol tersebut membuktikan bahwa di seorang yang
      terbelenggu pemikirannya dengan kyai kyai aswaja, yang membimbingnya
      untuk membenci wahabi, dan sekarang juga Muhammadiyah. Sebuah penyakit
      lama NU, ketika masa kapanye partainya menyerang lawan politiknya dari
      masumi, atau ketika NU masih Islam tradisional dijaman sebelum
      berdirinya NU yang dengan Mudah menyamakan Muhammadiyah dengan agama
      diluar Isslam. Zon Jonggol hanya sebuah pigura dari pemikiran NU yang
      kolot dan stati, kini terbukti hanya bisa mendompling nama NU guna
      menghujat Muhammadiya, atau mendompling dalam kekautan Sarkub yang
      memang diarahkan untuk menghancurkan kelompok lain.
    • Pengertian
      ulama contohnya sangat parsial sekali, seolah yang dimaksud ulama itu
      hanya tumpukan fiqih, bukan mereka yang hafal Quran dan Sunah, atau
      sekedar orang mentafshil berbagai bentuk ‘i’rab arab , itu yang disebut
      mengerti agama, padahal tidak sedikit kalangan ahli bahasa arab dunegara
      Arab , ahli bahasa arab tetapi sangat bodoh agama, sebagaimna penulis
      penulis alkitab (taurat dan Injil) berbahasa arab, mereka itu ahli
      nahwu, tetapi untuk berbicara agama islam ya sulitlah. Jadi kalau kata
      “Ulama ” itu hanya disandarkan pada kekolotan berpikir dan parsialisme,
      itu justru meng- kebiri pengertian “ulama” itu sendiri. Gak tahu kalau
      yang dimaksud Zon Jonggol adalah “Ulama fajir” dan abidul jahil, mungkin
      di aswaja tempatnya, disebut fajir karena senang dengan praktek bid’ah.
    • Zon
      Jonggol juga menggambarkan, seolah Muhammadiyah harus sentralistik
      seperti KH, Ahmad Dahlan, yang dulu berqunut dn misalnya taraweh 23,
      sehingga disinilah letaknya kekeliruan besar Zon Jonggol, karena Kyai
      patokannya, bukan Quran dan Sunah. Sedangkan hadist yang dikutip
      Muhammadiyah itu sebagai ralat terhadap kesalahan KH Ahmad dahlan masa
      lalu, bukan kudeta. Karena pakar pakar ilmu hadist di Muhammadiyah itu
      tidak sedikit, bukan pakar kitab fiqih model NU tentunya yang hanya
      mengarahkan NU sesaui penuh dan sentralistik KH Hasyim Asy’ary,
      Muhammadiyah tidak pernah memasung umatnya, bahkan bisa membatah Tarjih
      Muhammadiyah bila terbukti Tarjih Muhammadiyah lemah argumentasina. jadi
      salah alamat bila Zon Jonggol menempatkan Muhammadiyah harus sama
      dengan NU, itu konyol namanya.Jadi sekarang ternyata memang NU
      mengerahkan anak buahnya guna merusak ormas lain yang tidak sejalan
      dengan NU, makanya Zon Jonggol ambisi merusak Muhammadiyah dengan
      tulisan tulisannya, jadi memang itulah usaha NU untuk merusak
      Muhammadiyah, menyuruh anak asuhnya Zon Jonggol melakukan serangan
      berupa tulisan janggal dan tidak jelas, saya akan berdiri sebagai
      penentang Zon Jonggol sebagai lawan selamanya, untuk mengomentari semua
      tulisannnya yang akal akalan

Ulama Njed Bukan Penyebar Perselisihan, Tetapi Aswaja Indolah Penyebar Permusuhan Dengan Amalan Bid’ahnya.


Serial Bantahan ini sengaja saya tulis sebagai pedang pembunuh terhadap kebatilan yang disemarakkan Oleh Zon Jonggol. Kalau sekedar bermain kosa kata yang dirangkai semua orang bisa, apalagi menghiasi tulisan dengan hasil feeling dengan tujuan provokasi dengan seolah olah ahli agama, bisa dilihat dari susunan bahasanya. Sebagaimana Zon Jonggol menulis Karikatur berupa hurus hurus yang berbentuk kalimat, untuk menggambarkan dan mengesankan Ulama nejd itu dangkal, dan mengesankan NU sebagai ulama besar, itu bisa dibaca dalam tulisan Zon Jonggol yang sebenarnya mentah dalam hal agama.

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/06/22/sebatas-ulama-najed/
Dalam tulisan itu seolah beberapa ulama yang muncul dan lahir dari kandungan mereka yang disebut wahabi itu adalah linkaran ulama Nejd, tanpa membaca sejarah perkembangan Islam itu sendiri.

Sudut pandang kekirian Zon Jonggol dengan Skenario Sarkub dibelaknganya sebanrnya hanya bermain kata kata bukan hasil keadilan fikiran yang mau mencari kebenaran, tetapi anak Sarkub yang sudah dicuci otaknya sebagaimana NII , yang hanya mengenal kata “Ulama NU” sebagai pemegang kebenaran, bukan ulama lain. Standar pemikiran Zon Jongol hanya cocok bagi mereka yang menjadi bagian dari umat yang mencintai pemangku jabatan kyai, dari pada Islam itu sendiri.

Yang paling lucu ketika Zon Jonggol berbicara Paulus, itu tak ada bedanya NU yang menjadikan Kyai sebagai sentralistik pemikiran agama ala NU, dengan pandangan ketimuran yang ekstrim, kemudian menyuarakan Islam hanya cukup berdasarkan pandangan pandangan, sedangkan finalnya NU sendirilah yang mentukan dalam melanggengkan bid’ah di Indonesia. sebagaimana Zon Jonggol menilai paulus, maka tak ada bedanya konsep pemikiran NU yang sentralisti kekyaian, memanjakan umat hanya untuk mencintai kyai yang dikelaskan sebagai ulama, makanya disebut ulama.

Siapa Bilang Aswaja Sopan Santun



Kata Burhan : “Ulama Aswaja Selalu Terlihat Sopan Santun”. Ngecap deh ni anak, kapan dan dimna sopan santunnya. ngaku boleh boleh aja, bukti jauh dari kata “Santun” itu sediri, selain sering munafik. Bisa dibedakan antara Ulama Aswaja dengan Ulama Ahlussunah, perbedaannya kalau Aswaja itu sendiri tidak punya ulama untuk menyandarkan segala amal perbuatannya di dunia, segala amal ibadah aswaja secara Historis lebih pada komuditas ulama ulama Aswaja yang sama sekali tidak terkait dengan ulama Ahlussunah. Imam Abu hanifah bukan ulama aswaja, beliau adalah ulama Ahlussunah, Imam Malik bukan ulama Aswaja, beliau ulama yang berprinsip sunah, Imam Syafii bukan juga ulama aswaja sebagaimana di gambarkan aswaja sebagai ulama aswaja, tetapi beliau adalah ulama ahlussunah , apalagi Imam ahmad sudah jelas tidak terkait dengan amaliyah ibadah kampungan Aswaja, beliau adalah pembela sunah.

Yang perlu dibedakan antara Aswaja dan Ahlussuna itu sendiri. Kalau kata “Aswaja “ dipakai sebagai kalimat kependekan dari Ahlussunah waljamaah itu tidak konektif dengan pemahaman ahlussunah itu sendiri. Hal ini bila merujak pada ritual aswaja yang sama sekali tidak bersentuhan dengan ajaran Mazhabnya (dari kalangan ahlussunah). Makanya kata Aswaja itu tidak standar kalau menggunakan klaim ahlussunah , sedangkan amaln amalannya adalah kumpulan dan rangkaian dari berbagai bid’ah yang notabeni sangat diluar kemuan ulama ulama ahlussunnah. Jadi tepatnya kata aswaja itu harus berkepnajangan dengan Asunah WaRisaan Jahiliyah, itu lebih tepat, bukankah makna sunah itu “tradisi” alias peninggalan yang tergantung kemana disandarkan, kalau disandarkan kepada nabi bisa bermakna kebiasaan kebiasaan nabi, tetapi kalau digantungkan kepada para pencetus Aswaja model indo sama aja dengan warisan jahiliyah yang ada di Indonesia sebelum Islam.

Sebab Manhaj Aswaja adalah manhaj Islam “walisongo” yang ada dalam kitab kitab dongeng. Kewalian, kekeramatannya, dan saktinya itulah yang menjadi pedoman agama aswaja. Padahal kalau mau bercermin kepada sejarah nabi , Nabi, Saabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin , Imam Empat dan Imam imam hadist tak ada yang kayak Pagar Nusa, yang katanya himpunan orang orang sakti. Umar mati dibunuh, Usman mati dibunuh, Ali Mati dibunuh, tidak ada sahabat sahabat nabi yang utama kebal, bahkan nabi Muhammad giginya rontok di panah dengan tombak. Lah syariat aswaja al Indo ini diluar batas, bahkan diluar agama islam. setahu saya sewaktu di Malaysia dan India, orang orang yang kebal itu lebih banyak berlatang belakang hindu. Dimalaysia , dari kalangan Keling, tambi , india india dari berbagai suku , setiap acara hari besar hindu selalu menampilkan kegilaan yang luar biasa dengan menusuk perutnya, telinganya da berbagai antraksi kesaktian yang banyak diamalkan aswaja, sama dengan hindu di India, kalau memang mau lihat orang orang kebal bisa dilihat agamanya kayak apa……nah itu kesamaan aswaja dengan dengan hindu, masih belum yakin Allah, makanya dikebalkan badannya itu sekebal kebalnya, baru yakin Allah, padahal semuanya itu adalah semu belaka, bukan barang nyata yang pasti berakhir. Terlenih agama kesaktian itu tidak lahir melainkan di hindu , hasil kombinasi India dan Indonesia masalalu yang dikenal jawaisme dan sakai . Jadi keberadaan aswaja indon itu bukan membangkitkan kesadaran beragama dan keyakinan bahwa alquran dan sunah adalah wahyu, tetapi kesadaran beragama kampungan yang pernah dibesarkan oleh orang orang hindu.

Jadi kalau mau berbicara ulama ya pake ngacak dululah, tidak serta merta orang yang keluar dari pondok aswaja lalu disebut ulama, padahal sangat mentah aqidah dan ibadahnya