Dicari Segera Ulama Pewaris Nabi, Bukan Pewaris Walisongo


dicari segera ulama pewaris nabi bukan pewaris walisongo
dicari segera ulama pewaris nabi bukan pewaris walisongo

Tulisan ini Inspirasi dari seorang sahabat :

Pada awalnya penegasan Allah dalam surah Fathir [35] ayat 28 bahwa orang yang paling takut kepada Allah itu adalah ulama. Penghargaan yang demikian tinggi temadap ulama ditegaskanjuga oleh befoagai Hadits Nabi. Salah satu Hadits Nabi menyebutkan bahwa para ulama itu adalah pribadi-pnbadi yang layak untuk mewarisi tugas-tugas para Nabi. Hadits dimaksud adalah

فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ:مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا ، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ ، وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا ، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.أخرجه أحمد

Artinya; “Dari Abu Darda radliyallahu ‘anhu, Dia berkata: “Sesungguhnya Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, siapa yang menempuh jalan yang di sana ia mencari ilmu Allah mudahkan jalan ke surga-Nya. Sesungguhnya malaikat mele- takkan sayap-sayapnya sebagai tanda dukungannya kepada pencari ilmu. Se- sungguhnya mahkluk Allah yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan paus di laut pun memanjatkan ampunan bagi pencari ilmu. Sesungguhnya keutamaan seorang berpengetahuan atas seorang tukang lbadah seperti keutamaan bulan atas seluruh benda bercahaya di langit. Sesungguhnya ulama itu para pewaris para nabi dan para nabi itu tidak mewarisi (uang) dinar dirham mereka hanya mewariskan ilmu siapa yang mengambil ilmu ulama dia telah mendapat bagian yang banyak(HR lbnu Majah). Baca lebih lanjut

Iklan

Bantahan Kepada Aswaja [Asosia wajah wajah Jahiliyah ] tentang tulisan Idrus Ramli Yang Berjudul Kecerobahan Wahabi yang Membid’ahkan Do’a rutin setelah Shalat


Kecerobohan idrus ramli memahami Ibnu taimiyah
Kecerobohan idrus ramli memahami Ibnu taimiyah

Judul Tulisan Idrus ramli  :” Kecerobahan Wahabi yang Membid’ahkan Do’a rutin setelah Shalat
doa rutin setelah shalat dan kecerobohan wahabi.

Motto: Melihat tulisan yang tendensi provokatif ini menunjukkan si penulis memang buta agama, tidak mencerminkan nalar muslim yang berpegang teguh pada salaf assholeh. Judulnya saja menunjukkan kebodohan penulisnya yang bernama Idrus Ramli yang sebenarnya sangat mentah dalam memahami Islam.

Untuk Memudahkan pembaca saya tulisan dalam bentuk dialog

Idrus Ramli : “BUKTI KEBOHONGAN WAHABIMEMBID’AHKAN DOA RUTIN SETELAH SHALAT MAKTUBAH

El-Madury : Bukti judul tersebut saja tidak menggambarkan Idrus ramli yang cerdas, tetapi sekedar rekayasa otak Idrus Ramli yang mengesankan, seorang Idrus Ramli tidak banyak tau tentang Islam. Etika penulisan saja mencerminkan tulisan yang biasa ditulis kalangan Syiah dan orang orang yang identik dengan

Idrus Ramli :Setelah kami menulis bantaham ilmiah terhadap Wahabi, tentang dzikir bersama dan Tahlilan, ada seorang Wahabi menulis komentar, dengan mengutip dari fatwa Ibnu Taimiyah, fatwa Imam Ahmad bin Hanbal dan pernyataan al-Syathibi dalam al-I’tisham. Hanya saja, si Wahabi tersebut hanya mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah yang disukainya, dan membuang pernyataan Ibnu Taimiyah yang tidak sesuai dengan selera Wahabi masa sekarang. Baca lebih lanjut

Kisah Nabi Nabi Versi Al Kitab Dan Yesus Itu Palsu, Tidak Ada Fakta Otentik Alkitab Itu Firman Allah


Al Kitab milik dan ajaran kaum Kristen Protestan Dan Katholik, Tidak bisa di akui sebagai Al Kitab, karena Kitab Kitab mereka hanya berdasarkan dugaan semata, tidak ada satupun fakta meyakinkan kalau kitab kitab mereka adalah Kitab Allah. Tetapi sebaliknya kitab kitab mereka adalah bualan para pendusta yang mendustakan semua pesan pesan nabinya.

Untuk membuktikan kalau Al Kitab itu bukan kitab Tuhan, faktanya adalah pengakuan kalangan gereja sendiri yang meyakinkan kalau Alkkitab itu hanya di duga sebagai kitab Tuhan :

Gereja tidak pernah tau pasti kapan kitab itu ditulis
Gereja tidak pernah tau pasti, kalau Kitab perjanjian lama adalah karangan Musa
Gereja masih menerka nerka kalau itu kitab Tuhan
Gereja tidak pernah  memastikan sejak kapan alkitab itu ditulis, tahun dan tanggal berapa ?Gereja tidak ada yang bisa menunjukkan bukti kongkret, benarkah kitab itu tulisan Musa ?
Gereja Tidak Pernah bisa memastikan sejak kapan Al Kitab Itu ditulis.

Tentang Ilnjil Markus, Lukas, Matius Dan Yohanes juga banyak kejanggalan,Gereja tak bisa membuktikan secara Pasti Lukas dan Markus itu berkebangsaan apa ?
Geraja tak ada yang tahu Matius Dan Yohanes itu berkebangsaan apa
Kalau dijawab “Romawi” apakah bahasa Yesus bahasa Romawi ?
Apakah Yesus Orang Romawi ?
Kapan keempat penulis Alkitab itu berjumpa Yesus, dalam mimpi ?
Apakah Paulus orang Israel atau Orang Yahudi, atau bukan ?
TENTANG ISI ALKITAB
Nabi Nuh Pemabuk ?
Nabi Luth Selingkuh dengan anaknya sendiri ?
Yesus Keturunan Pelacur ?
Yesus yang mengharamkan Anggur, Justru memeras anggur buat jamuan pernikahan
Benarkah Tuhan berkorban untuk manusia ?
Benarkah Tuhan senang dengan pelacur Maria Magdalena ?
Benarkah Tuhan memuja pelacur sebagai persembahan ?

Masih banyak pertanyaan yang mengganjal dengan kehadiran Al Kitab Bullshit yang berisi pembodohan anak manusia yang di klaim sebagai tuhan, benar benar tolol ?

 

 

 

 

 

Rebutan Predikat “Ahlussunah Waljamaah Ala NU


Kata “Ahlussunah Waljamaah” menjadi laris dikalangan para pemburu cinta rasul, untuk menisbatkan kelompoknya sebagai sejatinya pengikut Rasul, yang mengejar keutamaan dari Rasulullah. Dengan harapan dirinya termasuk member group pecinta sunah dan peng-agung “Sunah” nabi.  Terjadilah saling klaim ditengah umat Islam :” Kami adalah ahlussunah”. Yang merebak di seantero dunia Islam, saling menonjolkan kelompoknya sebagai pasukan ahlussunah waljamaah, meskipun dari segi amalan tidak mencerminkan kelompok “Ahlussunah Waljamaah” yang merasa bertanggung jawab terhadap kemurnian sunah sunah rasulullah dan pelaksanaannya.

Di Indonesia motor klaim “Ahlussunah Waljamaah “ itu NU, dan yang tidak sejalan dengan NU disebut Wahabi, cari khas Syiah dalam rangka menghasut pembela pemurnian ajaran agama di dunia Islam. Karena dunia ini dipecah menjadi dua bagian, Syiah dan Wahabi. Sedangkan kata “Ahlussunah” yang berkembang biak di Indonesia, bukanlah kebesaran orang yang mengamalkan sunah nabi, tetapi menjadi kebesaran orang yang mengamalkan bid’ah, seperti sholawatan, thoriqah, istighotsah, tawassul, tahlilan dan tradisi tradisi bid’ah lainnya yang disematkan sebagai pakaian kebesaran NU

Sedangkan yang tidak dipandang Ahlussunah diantaranya ; Muhammadiyah, Persis dan ormas ormas yang tidak berafiliasi ke NU dalam mencangkok amalan dan ajaran. Paradigma Kyai Di NU itu menjadi momentum agama Islam, sehingga kyai kyai panutan mereka identik dengan Perintah agama, yang wajib ditaati.

Bahayanya kyai terkadang menjadi kitab suci mereka, sebagaimana halnya yang terjadi di Syiah, para Mullah identik dengan kitab suci agama Syiah. Demikianlah di NU, standarisasi kyai dibuat seeboh mungkin, dengan mengangkat “Karomah” para kyai sebagai prilaku spektakuler kyai, untuk menimbulkan anggapan, kalau derajat kyai ada yang mencapai alam ma’rifat [ istilah dalam thoriqah para kyai], itu pun telah menjadi ciri khas NU membangun pengaruhnya di Indonesia.

Di sisi lain NU melakukan legal action, pembenaran terhadap suatu amalan seperti tahlilan, istighotsah dan tawassul dengan model yang di desain oleh NU, disamping haul haul yang berisi ritual ibadah itersebut. Misalnya Haul Hadhoratus Syaikh Si Fulan, sudah pasti isinya adalah amalan seperti tahlilan, tawasul dan sholawatan, disamping sedikit dibumbui dengn tausiah, untuk mengesankan kalau amalan yang mereka kerjakan adalah amalan ahlussunah.
Hebat sekali kesannya, karena bisa mengundang histeris pengunjung yang berjubel jubel menghadirinya, dan karena banyaknya funnya itulah, amalan itu seperti “sakral”, sehingga ada sebutan “malam sakral” , yang dilukiskan dalam bentuk nasid dan qasidah yang mengiringi lantunan tahlilan mereka.

Pemulyaan terhadap tokoh tokoh mereka sukup memberi simbol dan makna, bahwa betapa Islam yang disandang mereka tidak lebih berharga amalan bid’ahnya yang disponsori para tokoh tokoh NU. Pertemuan antar tokoh di NU seolah kasta Brahmana yang memili tingkatan tersendiri. Kaum Kawula misalnya adalah kasta terendah yang harus patuh dan menjaga adabnya berbicara dengan kalangan kyai.
Yang menarik karena Islam disini identik dengan “Kyai”, “Al Islam AsSyaikh” , lumrah tampaknya dikalangan masyarakat NU. Sedangkan NU itu juga bukan sekedar ormas, salah kalau ada yang beranggaman NU sekedar ormas, karena legitimit Islam seseorang model NU itu harus dilihat dari golongannya.

NU itu digunakan untuk membedakan ciri khas Islam model, sebagaimana pernah terjadi di Madura, ketika ditanya oleh teman Muhammadiyah yang sedang mengadakan kunjungan kerja ke Madura. Sempat menanyakan pada salah seorang warga di Madura yang kebetulan sangat kental dengan paham ke-NU-annya; “Pak bagaimana dengan kristen disini pak”?. Jawabnya : “ Owh kalau di sini gak ada kristen pak, yang ada disini “Muhammadiyah”. Spontan temanku “ Geer”.

Itu salah satu imej bagaimana pengarahan ulama ulama di daerah yang konsumtis dengan pemikiran islam tradisionalisme, membuat mereka terpasung dalam belenggu retorika fanatisme buta. Yang menggambarkan Islam itu adalah NU dan tidak lainnya.
Di situs resmi NU dikisahkan konsep pemikiran sakralisasi kyai, tentang minta izinnya seorang ulama NU ke kuburan KH. Moh Khalil Bangkalan, ketika hendak mendirikan NU, ini bagian dari sakralisasi NU yang menempatkan kyai sekelas Kyai Haji Mohammad Khalil Bangkalan bisa berdialog dengan orang hidup.

Bangkan situs resmi NU sering memuat kekramatan kramatan para kyai Nu, sebagaimana halnya Syiah yang melebih lebihkan kebradaan 12 Imam Syiah dan kalangan Mullah yang menjadi tetesan para Imam. Sehingga ada yang beranggapan sama dengan Syiah, kalau dikalangan Kyai Nu itu yang ma’shum, sungguh sebuah pemikiran yang menabrak cagar Islam.

Misalnya “Sembilan wali” ini sama halnya dengan cerita “Imam Imam Syiah”. Ketika berbicara panjang lebar sekitar “karomatul Auliya’ “ kisah kisah yang tidak pada tempatnya yang memunculkan daya hayal pengikutnya memang sangat trendy dikalangan NU.
Itulah NU yang mengklaim Ahlussunnah bukan dalam makna defenitif yang lumrah terjadi dikalangan mazhab empat. Tetapi sebuah proyeksi pemikiran yang berlatar belakang adat kedaerahan dan Islam, seolah adanya persenyawaan antar tradisi agama masa lalunya dengan Islam, itulah pikiran yang tidak bisa lepas dari mereka yang katanya ahlussunah waljamaah model indonesia

Muhammadiyah Bukan NU


Tulisan ini menjawab sebuah anggapan, kalau tokoh Muhammadiyah yang pernah menuntut ilmu dari seorang ulama yang diagung agungkan NU, amalannya sama dengan NU. Anggapan itu bergulir salam bentuk tulisan tulisan klaim sepihak oleh warga NU yang menciptakan opini di berbagai media. Berbagai tudingan warga NU yang mempersepsikan diri sebagai penulis penulis NU menggemakan tulisan mereka, mengundang  banyak orang.membicarakan Muhammadiyah dan menyatakan kalau tokoh Muhammadiyah adalah Putra NU.

Serentak Media yang pro mereka, meng-aminkan pernyataan pernyataan sumbang yang ditulis sok ilmiah itu. Dengan menggambarkan Kyai Ahmad Dahlan sebagai sosok Warisan guru guru kyai NU, terutama pendiri Kyai NU yang disinergikan oleh penulis sebagai Adik kelas yang sama sama berpaham Syafiiyah model Indonesia. Terutama tulisan tulisan provokatif yang ditujukan hanya untuk sekedar melecehkan Tarjih Muhammadiyah. Disamping memaksakan sejarah, kalau KH. Ahmad Dahlan adalah kembaran NU yang mendirikan Muhammadiyah

Sudah membacakah sejarah KH. Ahmad Dahlan yang anti TBC [Tahayyul, Bid’ah dan Khurafat ], mestinya harus menjadi modal penulis, mestinya harus membaca kegelisahan KH. Ahmad Dahlan ketika di buru kelompok yang sekarang turunannya membangun citra, seolah ajarannya sama dengan KH. Ahmad Dahlan. Tokoh tokoh waktu Ahmad Dahlan atau Darwis Masih ada, yang kelak menjadi para pendiri NU adalah mereka yang tidak pernah berharap lahirnya KH. Ahmad Dahlan. Kehadiran Dahlan ketika itu membuat cemas kalangan ulama yang masih terkurung dalam adat. Mungkin sama dalam suatu hal , tetapi tidak banyak sama dalam hal, sebagaimana pemahaman Islam yang berkembang di Arab saudi, seperti taraweh 23 , bukankah umum menjadi kewajiban Wahabi, demikian juga NU, apakah NU wahabi karena melaksanakan Taraweh 23 rakaat.

Sedangkan perobahan Muhammadiyah dari 23 rakaat ke 11 rakaat, itu merupakan hasil telaah dan penelitian atau tahqiq terhadap hadist hadist taraweh, meskipun pernah dikerjakan KH. Ahmad Dahlan, itu sebelum munculnya Tarjih Muhammadiyah, yang lebih membawa perkembangan dan perobahan yang lebih sesuai dengan sunnah, dan tidakan seperti itu dilakukan Muhammadiyah, juga karena sangat sesuai dengan keinginan besar pendirinya “Kembali pada Quran dan Sunah”. Tentu tak ada yang aneh yang perlu diributkan, karena orang orang Muhammadiyah cukup dewasa memahami perkembangan pemikiran dan tidak terkurung dalam sebuah mazhab manapun

Salah satu keyakinan Muhammadiyah: Sunah itu apapun yang dikerjakan nabi, termasuk ucapn dan ketetapannya. sehingga sesuatu yang tidak tergolong sunah, siapapun mereka tak perlu dikerjakannya. Alangkah in dahnya mereka yang meng-agungkan sunah nabi. Tentunya berbeda jauh dengan orang meramaikan amalan amalan yang bukan sunah, dan tak pernah dilakukan dan dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam

Sekalipun demikian KH. Ahmad dahlan tidak pernah mengamalkan amalan amalan yang merebak di NU, amalan amalan yang nyata ketidak sunnahannya, yang ditradisikan para kyai NU hingga hari ini, seperti tawassul, istighotsah, dzikir bersama, praktek praktek tahlilan sebagaimana berkembang di NU dan selalu Innovatif, KH Ahmad Dahlan tak pernah merestui para dukun berlomba mengaku kyai di NU, dan mengembangkan bisnisnya. Kyai Ahmad Dahlan menolak semua yang berbau syirik apapun jenisnya. Tauhid KH. Ahmad Dahlan murni dari sebuah tauhid yang datang dari Al-Quran dan sunah.

Kemudian perintah kembali kepada sunnah oleh KH. Ahmad Dahlan, adalah sikap yang dianut oleh Majelis tarjih sehingga tidak pilih siapapun di Muhammadiyah harus menelaah lebih jauh mana yang sunah dan mana yang tidak sunah, itulah yang kelak menjadi standar Muhammadiyah dalam membangun Majelis Tarjih.

Jadi salah besar kalau KH, Ahmad dahlan hanya di klaim sepihak untuk mencitrakan diri NU yang seolah sama dengan Muhammadiyah, tanpa melihat selengkapnya sikap Muhammadiyah diawal sejarahnya.

Himbauan Fatwa Muhammadiyah Untuk Tidak Memenuhi Undangan Tujuh Hari Kematian


Alasan Ta’ziah atau sejenisnya, seperti rangka silaturrahmi pada acara ritual Tujuh hari kematian dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah sebuah argumen yang benar, tetapi terkesan menyia nyiakan agama dan ajarannya. Muhammadiyah bersikap, bahwa seorang muslim yang meninggal dunia berada dalam tanggung jawab yang hanya menurut syariat, tidak lebih dari syarat yang sudah dipatok oleh syariat. Sedangkan diluar ketentuan syariat mengurus jenazah, tidaklah ada perintah apapun jenisnya, termasuk perayaan perayaan kematian dalam segala jenis.

Kebiasaan yang beredar dan merebak ditengah tengah umat, baik itu tradisi tahlilan, tradisi haul dan berbagai tradisi tradisi kematian lainnya, semuanya bukanlah berasal dari perintah agama, tak pernah agama mengizinkan suatu ajaran yang tak ada sebelumnya. Agama patokannya adalah Al-Quran dan Sunah, maka setiap ajaran yang datang kepada kita, sudah seharusnya di cari dulu kebenarannya, adakah dalil atau contohnya dari abad pertama Islam, baik dari rasulullah atau sahabat sahabatnya.

Islam dengan pedomannya Al-Quran dan Sunah, merupakan standar umat Islam, ukuran beragama kita, kalau mereka beragama tidak pakai ukuran jelas itu hanya mereka reka saja, benar tidaknya ajaran itu tidaklah tahu persis. Artinya beragama membabi buta, itulah sebabnya Muhammadiyah tidaklah beribadah kepada Allah dan taat kepada Rasululnya, melainkan sesuai perintah atau dalil, kalau tidak ada, Muhammadiyah tak akan pernah melaksanakan, sekalipun langit runtuh dan bumi ambruk.

Prinsip Tarjih Muhammadiyah yang menganut dalil dalam beribadah, merupakan bukti ketaatan Muhammadiyah kepada Allah dan rasulnya, karena mempertahankan kemurnian aqidah. Suatu ibadah yang tak ada dalilnya dalam pandangan Muhammadiyah tidak dianggap sunnah. maka sesuatu yang tidak sunnah kalau dikerjakan tentu sifatnya mubazir, sia sia dan tak ada nilainya, sehingga tidak perlu menjadi amalan.

Muhammadiyah memandang yang tidak “sunnah” bagian dari nilai “nol” yang tak menguntungkan orang yang mengerjakannya. Karena sesuatu yang belum ada tuntunannya itu sudah pasti menyebrang dari jalan sebenarnya, dan kalau menyebrang dari jalan kebenaran bisa dikategorekan “diluat sunnah”. Itulah sebabnya Muhammadiyah memandang “TAHLILAN” yang berkembang dan membudayah ditengah Islam, merupakan kebiasan yang Mubazir [ Tidak ada buah pahalanya alias sia sia < Pent]

Maka majlis tarjih Muhammadiyah pun berkata:

Maka yang dilarang menurut Muhammadiyah adalah upacaranya yang dikaitkan dengan tujuh hari kematian, atau empat puluh hari atau seratus hari dan sebagainya.

Selamatan tiga hari, lima hari, tujuh hari, dan seterusnya itu adalah sisa-sisa pengaruh budaya animisme, dinamisme, serta peninggalan ajaran Hindu yang sudah begitu berakar dalam masyarakat kita. Karena hal itu ada hubungan dengan ibadah, maka kita harus kembali kepada tuntunan Islam. Apalagi, upacara semacam itu harus mengeluarkan biaya besar, yang kadang-kadang harus pinjam kepada tetangga atau saudaranya, sehingga terkesan tabzir (berbuat mubazir). Seharusnya, ketika ada orang yang meninggal dunia, kita harus bertakziyah/melayat dan mendatangi keluarga yang terkena musibah kematian sambil membawa bantuan/makanan seperlunya sebagai wujud bela sungkawa. Pada waktu Ja’far bin Abi Thalib syahid dalam medan perang, Nabi saw menyuruh kepada para shahabat untuk menyiapkan makanan bagi keluarga Ja’far, bukan datang ke rumah keluarga Ja’far untuk makan dan minum.

Perlu diketahui pula, bahwa setelah kematian seseorang, tidak ada tuntunan dari Rasulullah saw untuk menyelenggarakan upacara atau hajatan. Yang ada adalah tuntunan untuk memberi tanda pada kubur agar diketahui siapa yang berkubur di tempat itu (HR. Abu Dawud dari Muthallib bin Abdullah, Sunan Abi Dawud,Bab Fi Jam’i al-Mauta fi Qabr …, Juz 9, hlm. 22), mendoakan atau memohonkan ampun kepada Allah SWT (HR. Abu Dawud dari ‘Utsman ibn ‘Affan dan dinyatakan shahih oleh al-Hakim, Sunan Abi Dawud, Bab al-Istighfar ‘inda al-Qabr lil-Mayyit …, Juz 9, hlm. 41) dan dibolehkan ziarah kubur (HR. Muslim dari Buraidah ibn al-Khusaib al-Aslami, Bab Bayan Ma Kana min an-Nahyi …, Juz 13, hlm. 113).

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan:

1.      Sebagai warga Muhammadiyah sikap yang harus diambil adalah menjauhi atau meninggalkan perbuatan yang memang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah saw dan sekaligus memberikan nasehat dengan cara yang ma’ruf (mauidlah hasanah) jika masih ada di antara keluarga besar Muhammadiyah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya yang masih menjalankan praktek-praktek yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw tersebut.

2.      Dalam menjaga hubungan bermasyarakat, menurut hemat kami tidaklah tepat jika tolok ukurnya hanya kehadiran pada upacara/hajatan kematian. Namun, kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lain, seperti rapat RT, kerja bakti, ronda malam (siskamling), takziyah dan lain-lain juga perlu mendapat perhatian. Dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, insya Allah, ketika kita hanya meninggalkan satu kegiatan saja (tahlilan/hajatan tersebut) tidak akan membuat kita dijauhi oleh masyarakat di mana kita tinggal.

3.      Mengenai makan dan minum pada perjamuan tahlilan, sekalipun makanan dan minuman tersebut berasal dari para warga RT, namun tetap saja dapat digolongkan pada perbuatan tabzir, sehingga layak untuk ditinggalkan.

Wallahu a’lam bish-shawab. *)

Yang Jelas Muhammadiyah menetapkan langkah beribadah bagi para warganya menurut ketentuan Sunah, selama sunah membenarkan amalan tersebut, Muhammadiyah tunduk pada ketentuan tersebut.

Hari Nuzulul Quran Nasional [ 17 Ramadhan ] Bikinan Bung Karno > Jokowi Janji 1 Muharram Hari Pesantren Ide Setan


Ternyata tak ada bedanya dengan Bung Karno, Benar benar Marhenis Partai berlambang Banteng Gila, seorang Jokowi yang dinobatkan sebagai capres olehnya, ternyata seorang penghayal, dan menjadikan Islam sebagai proyek percobaan dan janji janji palsunya. Ini bukan “kampanye Hitam”, karena kampanye sudah selesai. Tetapi persoalan Jokowi sangat tendensius menyinggung perasaan umat Islam.

Umat Islam mengenal 1 Muharram sebagai bulan pembukaan,dan ada lagi yang menyematkan Muharram sebagai tahun Hijrah, meskipun tidak benar adanya. Sikap Jokowi menjual satu Muharram sebagai bahan kampanyenya, bagian dari penghinaan terhadap Islam. Jokowi telah beranggapan bahwa kelompok tradisional Islam itu sangat bodoh yang bisa dinina bobokan dengan “ulang tahun”. Karena Jokowi membaca, umat Islam itu gampang percaya dengan berbebagai perayaan yang diadakan oleh umat Islam, sehingga dibesar besarkankanlah Muharram itu dengan janji jokowi yang menyakitkan.

Padahal disisi lain Jokowi telah sengaja merusak struktur keharmonisan umat Islam LENTENG AGUNG, dosa yang tak pernah disesali Jokowi terhadap Umat Islam. Bagaimana dia sebagai orang ngaku Muslim, melukai perasaan umat Islam, sekaligus menghina kitabnya sendiri Al-Quran, dengan menempatkan Lurah Susan sebagai Lurah di Lenteng Agung yang “mayoritas Islam”. Sikap Jokowi Ini membuktikan dirinya yang tidak pernah tahu larangan Islam. konyol imannya, karena dengan mudah menjual agamanya demi orang lain dan agama lain yang meng-elu elukan Jokowi sebagai Yesus. Sungguh diluar batas iman, melampaui batas wajar memprak porandakan Islam dg mengizinkan non Muslim memimpin Islam, astaghfirullah

Bandingkan dengan Soekarno yang merintis “Nuzulul Quran” jatuh tanggal 17 ramadhan, bukan sebuah gaya Soekarni menina bobokan Islam, agar mendukung gagasan gagasannya. Tak ada keterangan dari kitab manapun bahwa tanggal 17 ramadhan itu adalah waktu diturunkannya Al Quran . Justru menurut keterangan yang rajih AlQuran diturunkan sekaligu kelangit dunia pada tanggal 24 ramadhan.

 

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا عِمْرَانُ أَبُو الْعَوَّامِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، الْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ “

Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’iid maulaa Bani Haasyim : Telah menceritakan kepada kami ‘Imraan Abul-‘Awwaam, dari Qataadah, dari Abul-Maliih, dari Waatsilah bin Al-Asqa’ : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Shuhuf (lembaran-lembaran) Ibraahiim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadlan. Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadlaan, Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadlaan, dan Al-Furqaan (Al-Qur’an) diturunkan pada tanggal 24 Ramadlaan [Diriwayatkan oleh Ahmad, 4/107; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 4/104 no. 1575].

naman tanggal 24 ramadhan itu bukan turunnya Al Quran pada Nabi Muhammad, tetapi turunnya Al-Quran ke langit dunia :

حَدَّثَنَـا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ، قال: ثنا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، قال: ثنا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ” إِنَّـا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ، قَالَ: نزل الْقُرْآنُ جُمْلَةً إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ…..

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Al-Hasan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ishaaq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Ayyuub, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas tentang firman-Nya : ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi’ (QS. Ad-Dukhaan : 3), ia berkata : “Al-Qur’an turun sekaligus ke langit dunia pada Lailatul-Qadr.” [Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh dalam Thabaqaatul-Muhadditsiin bi Ashbahaan 4/226; shahih].

Kesimpulan dari tulisan tersebut, baik Soekarno Adalah Jokowi meniru niru kelompok zindik kerajaan fatimiyun Mesir , kelompok Syiah yang memang kulturnya “Meng – ada ada”